Friday, September 21, 2012

Hanya Aku

.....sabit.

Ia terang tiga hari berurutan, mencipta indah dalam gempita.

dan aku lah di sini, sang pengecut dengan senyuman pahitnya.

iya, akulah pecinta sabit, pengagum bintang dan perindu purnama.


"hey, sabit... lama tak berjumpa ya? 
Mungkin kau telah tau aku lama tidak mengamatimu, karena musim dingin yang lalu membuatku lumpuh pada kehangatanmu. 
Hanya secangkir kafein hangat dan monitor empat belas inci lah yang menjadi teman setiaku, menyapa pada awan yang bergelimang hitam dan bintang yang enggan bersinar. 
Bagian dari hatiku selalu pudar jika mengingatmu, sabit. kau sangat indah, sungguh.

.....sabit, tahukah engkau?
Itu semua mematikan....... 
mematikan setiap nafas yang ingin aku mulai, cerita yang telah menunggu untuk aku tulis, dan keinginan serta harapan yang terus menjadi kamuflase di hidupku. "

No comments:

Post a Comment