Determined not to fall. Determined to be fine. Karena hidup bukanlah sekedar iseng
Monday, September 3, 2012
Sajak Dikala Senja
Jarum jam berdetak santun menelusur senja yang setengah berduka.
Seolah menyorak puing bias mentari yang perlahan sembunyi dari hingar bingar saat ini.
Sementara gemintang berbisik lirih, menyambut gelap yang kian menghitam.
Dan rinai lampu remang-remang diruang ini, menyeret rinduku jauh ke alam fana.
Ah, baru aku sadar, simfoni angin terhenti dari tadi.
Pantas daun-daun itu tak lagi melantun melodi.
Serenada yang terbentuk dari gemericik debu diatas angkuhnya gravitasi.
Orkestra tanpa konduktor, kuharap esok mereka datang lagi
Seperti biasa, teriakan dalam kepalaku terus berdengung, melirih.
Kudengar dari diksi monolognya, agaknya otakku sedang risau. barangkali.
Entah karena engkau, atau… entahlah aku juga tidak tahu.
Mungkin dia hanya sedang berkicau kacau?
Yang jelas, dia menggerakkanku lagi kemari, ya kembali kemari.
Di depan monitor empat belas inci, dimana jemariku menari.
Menekan bergantian tuts kibor yang berjejer rapi,
Menyusun rima-rima absurd yang mungkin tak begitu memiliki arti.
Sejenak otak ini lelah berkontemplasi.
Lalu menuntunku kembali ke bait pertama puisi ini.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment