Satu ricauan asal -- namun penuh akan pengakuan hati -- kembali tumpah.
Meskipun hiruk pikuk, canda tawa selalu meruah ditempat yang selalu kukeruk rizkiNya, entah kenapa, selalu saja ada kau menggemuruh dalam air yang menggenang, dalam angin yang tenang, dalam tatapan mata yang datang.
Satu kedipan, satu hembusan dan satu detakan, kemudian menjelma syair kerinduan. Kubunuh ia berulang-ulang, namun tetap saja ia lahir dan kembali merajut rindu yang fasih akan namamu. Barangkali, sudah hakikatnya untuk abadi dalam impiannya untuk mentasbihkan namamu.
Aku menyemat kata, kau merangkai nada, dan Tuhan kita yang Satu itu, mencipta hujan sebagai irama. Mungkin kau pernah dengar akan simfoni-Nya. Lalu, kenapa kita tidak menyanyikan desah rindu yang sama ? atau sepertinya, aku tetap bersikeras akan rinduku dibalik gorden jendela kesayangan, dan juga kamu, dengan dia yang selalu menjadi dilema.
Baiklah bila demikian. Biarlah malam nanti kusisihkan sedikit tenaga agar mampu datang menjelma kunang-kunang di mimpimu, berdenyar di dadamu, lalu mati tepat dihatimu...
kadang ga nyampe sama bahasa yang dikau tampilkan,man.. ketinggian buatku, aheee;;;
ReplyDeletehihihi
Makanya mbak banyak yang kau corat coret ketika aku bikin konsep.
ReplyDelete-_-