Sunday, November 6, 2011

Kenapa Harus Badut ?

Selamat pagi dan selamat Idul Adha bagi yang merayakan. Semoga Idul Adha kali ini memberi berkah bagi kita semua. Amin.


Pasti dari kita gak pernah berpikir kalau badut itu benar-benar profesi yang super. Sungguh terkadang aku iri dengan seorang badut yang selalu tertawa. Seolah dia tak punya beban yang ditanggung. Dia begitu menikmati dunianya yang dipenuhi dengan tawa. 



Aku melihat seorang badut bersembunyi dalam senyum palsu, terus tertawa, terus ceria, demi melihat mereka yang disayangi tersenyum.
Aku melihat seorang badut tertawa seolah tak pernah terluka, luka di badan nampak berdarah, luka di hati siapa yang tau??
Sebuah pertanyaan besar. Bolehkah seorang badut menangis, dengan senyum lebar di wajahnya? Ada yang bisa jawab?




Hai badut... Mengapa kau terus saja tertawa...
Tak sedetikpun engkau cemberut...
Benarkah dihatimu tak pernah ada duka...?

"Ini tuntutan profesi..., aku ini badut...
tak mungkin aku bisa menghibur kalau aku terus cemberut... 
Tentang duka dan air mata...sudah ku titipkan semua..
pada langit malam yang bercahaya..., 
bersama lantunan bait doa dan gumpalan asa...diantara masa jeda...
saat aku bisa bercengkrama dengan pemilik jiwa...", jawabnya.

Aku hanya bisa terpaku...
Tanpa bisa bicara...
Sempurnakah hidup yang dia punya...
Saat semua duka tertutup syukur dan doa...?

Aku ingin kembali bertanya...
Tapi ku telan semua kata...
Saat ku lihat dia kembali ke arena...
Dengan senyum diatas semua dukanya...





Tanpa sadar terkadang memang kita harus menjadi badut.

No comments:

Post a Comment