Friday, November 4, 2011

Menghargai Hidup Tiap Satu Tarikan Nafas

Apa arti hidup? seringkali saya bertanya pada diri sendiri sebenarnya arti hidup itu apa. Setiap orang punya jawaban yang beda-beda pastinya kalau ditanya soal arti hidup. Karena bagaimanapun juga perjalanan hidup orang serta inspirasi hidup orang itu berbeda satu sama lain. Kalo bagi saya sih hidup itu menghargai segala hal yang kita peroleh meskipun besar kecil baik buruk. Ya itu menurut saya, kalo menurut anda apa?

Malam ini gerimis kembali turun, tidak terlalu deras karena memang cuma gerimis. Tapi sebenarnya aku berharap awan sedang gamang dan kembali mengeluarkan banyak titik titik air untuk menghujam bumi. Jujur aja deh, pasti kita didalam kehidupan sehari-hari seringkali merasa penat akan hal-hal yang mungkin 'gak penting' menurut kita. Tapi gak ada sih sesuatu yang gak penting karena pada dasarnya manusia itu kebanyakan memang hanya memandang sesuatu dari satu sisi. Kita tak pernah merasakan ketika kita berada di posisi yang berbeda. Awalnya juga saya pun merasa banyak hal-hal yang gak penting, tapi kita sebenarnya gak berhak men-judge hal tersebut gak penting. Apapun itu, baik buruk besar kecil kuat lemah saya belajar untuk menghargai itu semua karena

Life is about trusting our feelings and taking chances, 
losing and finding happiness,
appreciating the memories 
and learning from the past.









Rintik hujan ini seolah tertawa,
menghardik hati yang berusaha sekuat tenaga menanti.
Tak pernah mencoba ku hitung berapa rintik yang menertawaiku.
Seratus? Seribu?
atau bahkan tak terhitung?
Entahlah. . . . 
Aku coba tak menghirau demi kau di timur sana.
Kini kau bergumam dengan duniamu.
Berirama dengan dawai jalanmu.
Aku coba mengerti tapi apa salah setitik cinta merindu.

Hatilah yang mencipta damai,
seperti titik nadir penciptaan semesta.
Serupa aku dulu,
termenung dalam satu ruang hampa.
Sebelum akhirnya kutemukan jawaban pencarian itu diujung senja.

"kau hanya kosong tanpa aku"kata awan pada langit

"lupakah?tanpa aku kau tak berarti apa-apa" ujar langit merendah

"....."sunyi senyap

Sapa lembut angin senja menyapuh hatinya yg di peluk rindu.
Rindu yg teramat dalam.
Ada tabir dibalik selaksa pilar hati yg tak nampak.
Hatinya yg tak kunjung bangkit dari serpihan.

"seperti apa rasanya mati" gumam awan di hempas ragu.

"mati,itu hampa Jika sekarang kau menginginkannya" jawab langit searah hati.

"hampa seperti apa!" teriak awan melepas angkara.

"seperti bintang kala malam dan aku" langit hanya tersenyum lalu diam.

"ya? bintang kala malam awal November yang tak nampak dan aku bayangan tak berpijak." ujar langit lirih.

1 comment: