Wednesday, December 21, 2011

Selepas senja di (hampir)Penghujung Bulan Desember

Ini sudah malam tapi belum terlalu pekat, memang malam ini (mungkin)cerah. Tapi tidak siang hari tadi.
Gerimis bak butiran salju membasahi kepala kami ketika kami hendak makan siang.
Malam ini, diruang atas rumah kedua kami, duduk menatap layar sembari jari jari ini menari diatas keyboard.

Ya siang tadi gerimis di (hampir)penghujung bulan Desember.
Saat butir-butir halus bak salju  mengukir ukiran yang terpahat di dinding.
Hampir terpaku aku menatap, menengadahkan kedua tangan ini keatas, hening.
Hati ini berdetak tapi tak berdegup, tak berdegup kencang.

Sekali lagi, aku tengadah.
Berlama-lama aku sengaja membelai mereka.
Mereka, butiran-butiran gerimis.
Karena aku tahu pasti, bahwasanya segalanya tak semudah yang kita kira.
Karena aku memang paham, bahwa ada yang tak tersentuh gerimis,
ketika mereka merapatkan barisan di pekarangan taman bunag yang kita tanam bersama.

Lihatlah, teman,
bukankah gerimis menyuburkan bunga-bunga yang tersemai, berputik
dan akan segera mekar?
Namun seperti dilansir angin, rintik halusnya menukik bertubi-tubi,
menyusup di sela-sela dedaun rindang pohon jati, hingga terasa nyeri di ulu hati.


Gerimis di (hampir)penghujung bulan Desember.
Saat kulihat binar mata kalian begitu sunyi,
Sejenak bibirku melafazkan sajak-sajak yang akan mengawan di langit hati kalian.
Suaraku samar, jika kalian tahu,
berpacu dengan gerimis yang bermetamorfosis menjadi hujan.

Matamu semakin sepi kulihat,
saat rintik-rintiknya menghunjam wajah kalian yang lelah.
Bibir kalian menggeletar, seakan ingin merapalkan sesuatu,
Namun hujan telah menjadi beku.
Hujan akan kembali menyisakan gerimis, hingga tandas.
Dan ketika sampai waktunya aku tak akan mengatupkan payung untuk kita semua,
percayalah...~

No comments:

Post a Comment