Jika kemarin sore mendung, hari ini benar-benar hujan.
Saat hujan di luar berisik dan gaduh :
Aku : "Hai hujan, mampirlah sebentar"
Hujan : "Aku tak bisa berlama-lama"
Aku : "Sebentar saja, aku kesepian saat ini"
Hujan : "Kau tahu bukan aku sangat ingin sejenak di sini?"
Aku : "Iya. Aku tahu"
Hujan : "Tapi aku bukan cuma milikmu, Aku milik setiap orang, setiap pohon, setiap hewan, bahkan tanaman."
Aku : "Maaf, harusnya aku tahu diri, tak boleh memonopoli engkau buatku sendiri."
Hujan : "Toh aku juga selalu lewat depan jendelamu saat gerimis datang bukan?"
Aku : "Iya. Tapi hatiku sepi, Ah, tak apa, aku tahu hati tak boleh main hakim sendiri."
Hujan : "Kalau aku tak pergi, kau tak akan jumpa pelangi. Aku tahu kau suka pelangi"
Aku : "Sore ini menjelang senja tak mungkin ada pelangi"
Hujan : "Mentari mungkin akan segera pergi, tapi pelangi akan tetap hadir. Setelah aku pergi, tentu saja."
Aku : "Apa tak bisa aku punya semua?"
Hujan : "Di hatimu, kau sudah punya semuanya, kau hanya belum menyadarinya."
Aku : "Baiklah, aku tak mau menahanmu lebih lama, Mampirlah kesini kapan saja."
Hujan : "Aku tak bisa menjanjikanmu apa-apa, Tapi yang pasti, aku tak akan kemana-mana, asal kau masih menginginkanku."
Aku : "Tak perlu janji. Pun kau tahu bukan rasanya diingkari?"
Hujan : "Okay. Goodbye then"
Aku : "Anyway, i don’t say good bye for something i love, good luck is better. Sure we’ll meet again somehow"
Hujan : ~hug
Aku : (I love you, you know that, but i just can’t hardly say, were not as yesterday)
No comments:
Post a Comment